SULBAR-KABARTA.COM, MAMUJU – Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Cabang Mamuju menyoroti krisis air bersih yang dialami warga Karama, Desa Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah.
Fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di wilayah tersebut dilaporkan tidak lagi mengalirkan air ke rumah-rumah warga sejak Maret 2026.
Wakil PERMAHI Cabang Mamuju, Muhammad Taopik, menilai kondisi tersebut sebagai bentuk kelalaian pengelola Pamsimas dan pemerintah desa dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurutnya, sebelum program Pamsimas dibangun, sebagian besar warga memanfaatkan sumur bor secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Namun, kata dia, warga kemudian memilih menghentikan penggunaan sumur bor karena mendapat jaminan bahwa layanan Pamsimas akan lebih baik dan lebih lancar.
“Kondisi ini sangat ironis dan merugikan warga. Tujuan awal Pamsimas adalah mempermudah akses air bersih, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Warga sudah terlanjur memutus jaringan air bor pribadi karena percaya pada janji awal pembangunan Pamsimas. Sampai sekarang air tidak mengalir sejak Maret dan belum ada kejelasan,” kata Muhammad Taopik.
Ia mengatakan, keresahan warga semakin meningkat karena air bersih merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.
Taopik menegaskan pemerintah dan pengelola Pamsimas harus segera mengambil langkah konkret agar persoalan tersebut tidak terus berlarut.
“Air bersih adalah hak dasar masyarakat. Warga tidak boleh terus dibiarkan menanggung dampak akibat pelayanan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
PERMAHI Sampaikan Tiga Tuntutan
PERMAHI Cabang Mamuju menyampaikan tiga tuntutan kepada pengelola Pamsimas dan pemerintah.
Pertama, meminta pengelola Pamsimas dan Pemerintah Desa Pangale memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab terhentinya distribusi air sejak Maret, disertai transparansi pengelolaan program.
Kedua, mendesak Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui dinas terkait segera melakukan evaluasi teknis dan perbaikan agar distribusi air bersih kembali normal.
Ketiga, meminta pemerintah dan pengelola menyediakan pasokan air bersih darurat secara gratis bagi warga selama proses perbaikan berlangsung.
PERMAHI Cabang Mamuju menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga warga Karama memperoleh kepastian layanan air bersih dan pemerintah menghadirkan solusi nyata atas krisis yang terjadi.(*)





