Sulbar

Dominasi Dolar AS Tekan Rupiah, PERMAHI Mamuju Soroti Dampaknya terhadap Masyarakat dan UMKM

×

Dominasi Dolar AS Tekan Rupiah, PERMAHI Mamuju Soroti Dampaknya terhadap Masyarakat dan UMKM

Sebarkan artikel ini

TELEGRAPH.ID, MAMUJU – Ketergantungan struktural sistem ekonomi global terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah. Kondisi ini tidak hanya menjadi persoalan di pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung pada daya beli dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Ketua DPC PERMAHI Mamuju, Imam Suritno, mengatakan dominasi Dolar AS dalam perdagangan dan transaksi internasional menciptakan tekanan yang berkelanjutan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS memicu berbagai dampak yang dirasakan hingga ke tingkat masyarakat.

Berita Lainnya:  Komisi II DPRD Sulbar Soroti Rendahnya Realisasi PAD dan Pelaksanaan Program APBD 2026

“Fenomena dominasi Dolar AS bukan sekadar angka di layar bursa saham, melainkan realitas ekonomi yang secara langsung memengaruhi daya beli dan kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah,” ujar Imam.

Ia menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor, mulai dari pangan seperti gandum, kedelai, dan daging hingga energi serta obat-obatan, membuat setiap penguatan Dolar AS berdampak pada meningkatnya biaya hidup masyarakat.

Menurut Imam, terdapat tiga dampak utama yang dirasakan masyarakat akibat dominasi Dolar AS.

Berita Lainnya:  Petani Sawit Mengeluh Harga TBS Anjlok, DPRD Sulbar Akan Bentuk Pansus Awasi Perusahaan

Pertama, terjadinya lonjakan harga kebutuhan pokok atau imported inflation. Barang-barang yang bahan bakunya diimpor menggunakan Dolar AS cenderung mengalami kenaikan harga ketika nilai tukar Rupiah melemah.

“Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Kondisi ini menggerus tabungan dan menurunkan pendapatan riil masyarakat,” katanya.

Kedua, tekanan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurutnya, UMKM yang bergantung pada bahan baku atau komponen impor menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung kenaikan biaya produksi.

Berita Lainnya:  Kepala Biro Umum Anshar Malle Ajak Jajaran Pejabat dan Staf Amalkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

“Jika harga dinaikkan, risiko penurunan omzet semakin besar. Namun jika tidak, pelaku usaha harus menanggung kerugian akibat meningkatnya biaya produksi,” jelas Imam.

Ketiga, meningkatnya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia menilai industri manufaktur yang biaya operasionalnya membengkak akibat pelemahan Rupiah kerap melakukan langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

“Ketika biaya produksi terus meningkat karena selisih kurs, sejumlah perusahaan memilih melakukan efisiensi. Dampaknya, angka pengangguran berpotensi meningkat,” pungkasnya.(*)